Jakarta - Dilansir dari Wikipedia Hari Anak adalah acara yang diselenggarakan pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai tempat di seluruh dunia. Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni dan Hari Anak Universal diperingati setiap tanggal 20 November. Negara lainnya merayakan Hari Anak pada tanggal yang lain. Perayaan ini bertujuan menghormati hak-hak anak di seluruh dunia.

Di Indonesia, Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Peringatan HAN merupakan momentum penting untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh komponen bangsa Indonesia dalam menjamin pemenuhan hak anak atas hak hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Baca juga: Kewalahan Hadapi Anak Hiperaktif? Ini Cara Dampinginya

Berbeda dengan peringatan pada tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan HAN tahun ini menghadapi tantangan karena adanya pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia yang berimplikasi pada masyarakat, terutama anak, mengalami berbagai persoalan seperti masalah pengasuhan bagi anak yang orangtuanya positif COVID-19, kurangnya kesempatan bermain, dan belajar serta meningkatnya kasus kekerasan selama pandemi sebagai akibat diterapkannya kebijakan jaga jarak maupun belajar dan bekerja di rumah. Anak-anak tidak lagi memiliki kesempatan berinteraksi bersama dengan teman sebayanya seperti biasanya. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat mereka berhenti peduli antar sesama.

Berdasarkan tantangan tersebut, maka tema HAN tahun 2021 adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan Tagline #Anak Peduli di Masa Pandemi. Hal ini sebagai motivasi bahwa pandemi tidak menyurutkan komitmen untuk tetap melaksanakan HAN tahun ini secara virtual, tanpa mengurangi makna HAN. Momentum peringatan HAN juga diharapkan menjadi momentum untuk menunjukkan anak-anak Indonesia yang tetap berprestasi, gembira, kreatif, inovatif, dan dapat bersenang-senang bersama orang tua meskipun berada di rumah selama COVID-19.

Kemendikbudristek juga turut mengambil peran dalam merayakan HAN 2021 dengan menyelenggarakan acara Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2021 dengan tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” yang dilakukan secara virtual pada hari Jumat, 23 Juli 2021, Pukul 13.00—15.00 WIB.

Pada kegiatan ini akan ada Panggung Anak Indonesia Merdeka, dan Bincang Pakar dan Pegiat PAUD. Panggung Anak Indonesia Merdeka akan dibuka oleh Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim,  Bapak Hendarman (Plt. Kepala Pusat Penguatan Karakter) dan dipandu Iren Shalsa Kirani. Lalu akan ada penampilan dari The Sasono’s Family (Dru, Widuri, Den Bagus), M. Raihan Faraby, Rafa Jafar, dan M. Nizar (siswa berkebutuhan khusus) yang akan berpantomim. Akan ada juga pembacaaan buku anak oleh Ibu Franka Makarim, Penasihat DWP Kemendikbudristek.

Pada Acara Bincang Pakar dan Pegiat PAUD, akan dibuka oleh Bapak Jumeri (Dirjen PAUD DIKDASMEN), dan diisi oleh Kak Seto (Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia), Sofie Dewayanti (Pakar Literasi), Hj. Rukmini (Bunda PAUD Tasikmalaya), Atalia Praratya(Bunda PAUD Prov. Jawa Barat), Kiswanti (Kepala Sekolah PAUD Nurul Qolbu), dan I Gusti Ngurah Pandu Wijaya (orang tua murid).

Acara Peringatan Hari Anak Nasional 2021 yang digelar Kemendikburistek dapat disaksikan melalui kanal Youtube Kemendikbudristek, Suara Edukasi, Radio Edukasi, dan Radion Itjen Kemendikbudristek.

Bagaimana perlindungan anak di Indonesia?

Dikutip dari laman resmi Unicef, anak-anak baik di lingkungan sekolah atau rumah terkadang masih sering menjadi objek kekerasan. Intimidasi dan dipermalukan adalah hal yang biasa terjadi di sekolah-sekolah, dengan 18 persen anak perempuan dan 24 persen anak laki-laki terpengaruh. Anak laki-laki terutama menghadapi risiko serangan fisik di sekolah.

Guru sering menggunakan hukuman fisik dan emosi untuk mendisiplinkan anak-anak, padahal kebanyakan dari mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali serta melaporkan kekerasan setiap masalah yang mereka alami. Di lingkungan rumah yang masih menerapkan praktik tradisional, anak perempuan berusia remaja cenderung lebih rentan mengalaminya, seperti perkawinan di bawah umur.

Satu dari setiap sembilan anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, dan anak-anak perempuan dari keluarga termiskin lima kali lebih mungkin menikah pada usia sangat dini dibandingkan teman-teman mereka yang lebih kaya. Bentuk kekerasan lainnya adalah mutilasi alat kelamin perempuan (FGM) yang masih tinggi, yaitu 52 persen.

Perkawinan anak, selain melanggar hak-hak anak dengan memaksa mereka berhenti sekolah, juga mengakibatkan kemiskinan antargenerasi, merusak pendidikan jangka panjang, kemampuan untuk mencari nafkah, dan ironisnya juga dapat bertambah jumlahnya. Di sisi hukum, kekerasan terhadap anak belum dilarang dalam semua pengaturan (perkosaan dalam pernikahan masih diizinkan), dan sistem keadilan untuk anak-anak belum memprioritaskan perlindungan bagi semua anak yang berurusan dengan hukum.  

Sementara anggaran pemerintah dalam hal perlindungan anak-anak dari kekerasan hanya kurang dari 0,1 persen dari total anggaran. Prosedur administrasi publik yang kompleks dan kurangnya kewenangan yang diamanatkan untuk perlindungan anak mengakibatkan kesulitan dalam menyediakan layanan yang efektif untuk anak-anak yang rentan.

Selain itu, sekitar 17 persen anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak memiliki akta kelahiran, yang menyebabkan mereka sulit untuk mengakses layanan utama.

*Sumber: http://ditsmp.kemdikbud.go.id/