Pekerja Rumah Tangga (PRT) sudah dikenal sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Para pembantu di rumah orang Belanda biasanya mempekerjakan satu keluarga pribumi. Kini, sebutan "pekerja" dinilai lebih tepat dibanding "pembantu".

Jakarta - Untuk menyebut kata “pembantu” kepada orang yang bekerja dirumah-rumah untuk membereskan segala pekerjaan domestik – biasanya dirumah atau di apartemen orang kaya dan menegah atas sebenarnya sah-sah saja. Pembantu yang secara artinya orang yang membantu. Bantu-bantu dirumah sedikitpun tidak bermakna merendahkan.

Akan tetapi, menurut beberapa aktivis dan LSM yang fokus dalam memperjuangkan hak-hak “pembantu”. Kata ini sudah tidak representative lagi. Alasannya, “pembantu” rentan disalahartikan, menjadi orang yang membantu dengan ikhlas, tanpa bayaran. Padahal, faktanya, “pembantu” secara sadar beekrja dan mencari nafkah.

Bagi banyak orang anggapan pembantu adalah pekerjaan yang sangat mulia itu sesuatu yang punya nilai bagus dan tidak ada masalah. Tapi pada kenyataannya kemuliaan itu tidak dibarengi dengan perlakuan yang baik. Sangat bertolak belakang dengan sebutan “mulia”Perlakuan yang tidak baik di tempat kerja sering terjadi pada PRT, diantaranya: kekerasan fisik, psikis, ekonomi, seksual, maupun sosial.  Meski tidak semua majikan memperlakukan  PRT-nya secara buruk. Menurut catatan JALA PRT, pada  tahun  2012 sebanyak 327 kasus kekerasan dialami PRT di lingkungan kerjanya. Tahun 2013 meningkat menjadi 366 kasus kekerasan yang dilaporkan. Tahun 2014 sebanyak 408 kasus. Tahun 2015 tercatat 402 dan sampai  oktober 2016 mencapai 225 kasus.

Data kekerasan di atas adalah bukti bahwa  sebutan pembantu sangat tidak menguntungkan. Sebab pembantu dianggap tidak memberikan kontribusi apapun sehingga lepas dari perlindungan dan penghargaan apa yang seharusnya menjadi haknya. Kalau dilihat dari keberadaan dan peran yang selama ini dilakukan, sudah selayaknya tidak lagi disebut sebagai pembantu melainkan pekerja dan pantas untuk mendapatkan pengakuan dan perlindungan dari masyarakat dan negara.

Kontribusi dan peran nyata dari PRT adalah dengan melakukan hampir semua pekerjaan rumah tangga di rumah pengguna jasa atau majikan, di antaranya memasak, mencuci  pakaian, menyetrika hingga rapi, membersihkan rumah, mengasuh anak, merawat orang  jompo, dan belum lagi kalau majikan membutuhkan pertolongan yang lain. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Sehingga anggota keluarga majikan  yang mempunyai aktivitas untuk  mengembangkan karir di wilayah publik tidak dibebani dengan kerja-kerja rumah tangganya.  Dan tujuan  bekerja  di rumah majikan agar mendapatkan upah yang layak (sesuai  beban kerja-standart upah) dan hak-hak lainnya.

Upaya mendapatkan istilah PRT yang merupakan singkatan dari Pekerja Rumah Tangga sekitar tahun 2010-an. Menurut Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga, penggantian kata ‘pembantu’ oleh ‘pekerja’ adalah symbol perjuangan untuk kesetaraan PRT yang sangat rentan mengalami ketidakadilan.

*Sumber: Wikipedia