Jakarta - Pemeriksaan tingkat saturasi atau kadar oksigen merupakan salah satu hal penting yang perlu dilakukan terutama pada pasien Covid-19. Oximeter (pulse oximeter) adalah alat pengukur kadar oksigen dalam darah. Alat ini penting untuk Anda miliki karena kondisi kurangnya oksigen dalam tubuh umumnya tidak menimbulkan gejala. Prinsip kerja alat pulse oximetry berdasarkan kemampuan membedakan absorbansi cahaya oleh Oksihemoglobin (O2Hb) dengan Deoksihemoglobin (HHb).

Pada pasien dengan saturasi diatas 90%, penggunaan alat pulse oximetry dapat dipercaya karena rata-rata selisih antara hasil bacaan alat pulse oximetry dengan standar referensi Saturasi (SaO2) kurang dari 2% dengan standar deviasi kurang dari 3%.

Akan tetapi ada beberapa kondisi dimana pulse oximetry tidak dapat diandalkan, yaitu pada pasien dengan saturasi di bawah 70%, anemia berat, dan pergerakan berlebih pada pasien.

Baca juga: Tips Hemat Menggunakan Kouta Internet

Cara Menggunakan Oximeter

Alat ini umumnya berbentuk klip yang digunakan dengan cara dijepitkan di jari tangan. Setelah terpasang, sensor pada alat oximeter akan mengevaluasi jumlah hemoglobin atau zat di dalam sel darah merah yang bertugas untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Alat oximeter dilengkapi dengan layar monitor kecil. Pada layar monitor tersebut, akan ditampilkan hasil pengukuran kadar oksigen dalam darah. Berikut ini adalah beberapa tips dan cara menggunakan oximeter dengan baik dan benar:

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan oximeter.
  • Pastikan kuku dalam kondisi bersih, tidak panjang, dan hindari penggunaan cat kuku berwarna gelap atau kuku palsu.
  • Hangatkan jari tangan, terutama jika jari terasa dingin.
  • Nyalakan oximeter dan posisikan jari, baik jari telunjuk, jari tengah, atau ibu jari, di antara capit oximeter.
  • Setelah oximeter terpasang, diam dan tunggu selama beberapa detik hingga alat berhasil mengukur kadar oksigen dalam darah.

Pada layar oximeter, tertera dua angka dengan arti yang berbeda. Angka yang ditandai dengan %SpO2 menunjukkan saturasi oksigen dalam darah, sedangkan angka yang tertera sebagai huruf HR (heart rate) menunjukkan jumlah denyut nadi atau detak jantung Anda.

Saturasi oksigen dikatakan normal apabila nilai saturasi oksigen (%SpO2) berada di angka 95% atau lebih. Sementara itu, seseorang dikatakan mengalami kekurangan oksigen atau hipoksemia jika nilai saturasi oksigennya turun hingga kurang dari 92%. Kondisi ini perlu segera mendapatkan penanganan dari dokter.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah merekomendasikan pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri untuk mengukur kadar oksigen dalam darah dengan menggunakan oximeter secara mandiri. Sebagaimana dilansir WebMD, tingkat saturasi oksigen dianggap normal jika menunjukkan antara 95-100 persen. Sementara pada orang dengan masalah paru-paru seperti PPOK dan asma, tingkat saturasi akan berada di bawahnya.

Salah satu tanda saturasi oksigen rendah atau hipoksemia ditandai dengan tingkat saturasi di kisaran 90-92 persen. Angka ini menandai adanya masalah pada paru-paru dan kebutuhan oksigen tambahan. Jika angka saturasi oksigen menunjukkan di bawah 90 persen, Anda disarankan untuk segera mencari pertolongan medis.

Selain pemeriksaan menggunakan oxymeter, saat kekurangan oksigen dalam darah, tubuh biasanya akan memunculkan sejumlah gejala.

*Sumber: Alodokter